Awan bergelayutan manja
Menutupi langitku hingga gelap kelam
Rintik air turun perlahan
Memudarkan pandangan didepanku,namun tidak ingatanku akan mu..
Angin bermain-main,menari di tengah hujan
Menggelitikku dengan percikan-percikan yang mengenai wajahku
"Akh..aku tak sedang ingin bermain,"keluhku padanya
Ia menggodaku lagi
Melemparkan senyum nakalnya padaku yang termangu
menatap rintikan air yang menghujam tanah
Sama rasanya seperti jarum-jarum yang menyuntikkan rindu ke dalam aliran darahku...
"Hei!!"teriak sang angin dari bawah hujan
"Mari menari bersamaku..
Bukankah kau katakan bahwa ada lagu dalam hujan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang merindu?"
Aku terdiam ragu
Awan masih tetap bergelayutan manja
Hujan masih turun menghujam
Namun,bagiku ia tak lagi menghujam tanah
Ia menghujam hatiku
Meluluhlantakkan benteng pelupuk mataku..
Arghh...
Tanpa aku sadari,aku telah bersama sang angin dibawah hujan
Aku menengadahkan tanganku
Merasakan hujan yang jatuh dan berbicara padanya..
Rindu ini menyiksaku
Ingin aku teriakkan padanya yang jauh disana agar dia tahu
Terlebih ingin aku bisikkan padanya di tengah hujan ini
Tapi,dia bukan penyuka hujan
Dia tak suka menari di tengah hujan
Lantas bagaimana?
"Aku akan membawa rindumu padanya,"jawab sang hujan
"Dia tak suka hujan,"bantahku pula
"Aku akan mengumpulkan bulir-buiir rindu yang mengalir di pipimu itu,membawanya pada bintang dan memperlihatkannya pada dia,yang kau rindukan,"kata sang hujan lembut
"Baiklah..Aku pikir dia akan menyukainya.Setidaknya,mungkin dia akan tersenyum.."ujarku menyetujui
Hujan mendekapku sesaat
Mengusap rambutku
Kemudian menghilang bersama angin...
Aku kembali sendiri disini
Ntah mengapa jari-jariku begitu ingin menyentuh tanah yang masih basah itu
Mulai menggoreskan huruf-huruf yang sangat aku kenal,
namamu..
Berharap tanah yang basah itu menjadi prasasti
yang goresan diatasnya tak akan hilang?
Betapa bodohnya!
Bukankah sudah terukir di hati?
Itu lebih dari sebuah prasasti...
0 comments:
Post a Comment