Puisi ini saya buat beberapa waktu yang lalu,namun baru saya posting disini hehee..
Seperti yang kamu minta, saya buat puisi ini untuk kamu, R.A
Pendaran waktu kembali mendatangiku
Mengantarkan pusaran pola yang seakan hendak menyedotku
Membawaku paksa pada bagian di sudut sana
Sudut gelap yang tak ingin aku usik...
"Aku tidak layak"
Satu kalimat yang jadi inti kegundahanmu
Namun mampu bergerak seperti gravitasi yang memaksaku jatuh pada ingatan itu
Hei kamu.. Iya, kamu..
Kamu pikir aku layak?
Kamu pikir aku tidak terseok-seok ketika memberi batas antara masa kini dan masa lampau?
Coba kamu lihat..
Aku gemetar..
Di sudut sana ada pusaran masa laluku yang kelam
Sudut dimana ketidaklayakanku aku buang
Sudut yang darinya aku merangkak untuk bisa keluar dari jeratnya.
Ya! Aku merangkak!
Bukan berjalan!
Bukan berlari!
Bukan satu atau dua ikatan
Tapi ada begitu banyak hingga aku sulit bernafas
Jika bisa, sepertinya akan lebih baik kalau laut melumatku sampai habis
Namun lihat aku kini
Aku ada disini sekarang
Di tempat yang mungkin kamu sebut "layak"
Aku keluar dari pusaran itu
Dan tak ingin kembali meski seberapa keras pun dia meraung
Lantas kamu
Apa yang kamu lakukan?
Mau kemana kamu buang kekelamanmu itu?
Mau sampai kapan kamu tenggelam di dalamnya?
Lihat! Dia tertawa melihatmu
Dia berhasil mencengkrammu erat
Pola kelam itu tidak bisa kita hapus
Penghapusnya tidak ada pada kita
Dia akan tetap jadi bagian hidup kita
Daripada memikirkan cara untuk menghapusnya
Bukankah lebih baik jika meninggalkannya tetap dibelakang?
Monday, April 25, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Hello world.. ^__^
Advertising
Pages
About Me
Entri Populer
-
Mendapat kesempatan menjadi Koordinator Kota dalam Kemenkeu Mengajar 2 Tebing Tinggi merupakan hal yang sangat saya syukuri dan banggakan...
-
Hujan sedang turun saat saya menuliskan ini, memang benar bahwa hujan selalu punya caranya sendiri untuk menghipnotis pikiran. Buktinya, ...
-
"Kau menanggung kutuk dosaku, betapa pun beratnya itu. Sehingga Bapa di surga memalingkan wajah dariMu. Kau lunasi utang dosaku, betapa...
0 comments:
Post a Comment